PASAR TRADISIONAL SOKOGURU EKONOMI NASIONAL YANG PUNYA DAMPAK SISTEMIK UNTUK RAKYAT KECIL, TAPI NGGAK PERLU BAIL OUT ATAU SUBSIDI UNTUK PENGEMBANGANNYA.... YANG DIINGINKAN HANYA PERLAKUAN YANG ADIL...
Mengembangkan kembali pasar tradisional dan menjadikannya pasar yang bersih, nyaman, aman dan memiliki nilai tambah bagi semua pedagang, pembeli dan stakeholder lainnya. Hasil yang diharapkan:Menciptakan ... more >>
News
Source: malang post
Date: 02 May 2012
Batu Agropolitan Pasar Sepi Ditinggal Demo


MALANG POST,
 Rabu, 12 Oktober 2011 13:54



 BATU – Pedagang Pasar Batu, Kamis hari ini
ancang-ancang demo ke gedung DPRD. Dalam aksi itu, mereka mengatasnamakan diri
Aliansi.



 Paguyuban Pedagang Pasar Batu, bakal
menyampaikan aspirasi menolak pembangunan pasar yang segera berlangsung.



 ‘’ Ya. Setelah pedagang pasar pagi tutup, kami
siap-siap datang ke DPRD,’’ tegas salah satu pedagang kepada Malang Post,
kemarin.



 Di lingkungan Pasar Batu, juga beredar selebaran
berisi ajakan melakukan unjuk rasa dengan tetap berusaha mempertahankan kondisi
pasar tradisional. Saatnya kita bergandengan tangan menyampaikan aspirasi
pedagang pasar, bunyi salah satu petikan selebaran itu.



 Punjul Santoso, anggota DPRD Kota Batu membenarkan
akan ada unjuk rasa hari ini. Pihaknya pun sudah mendapatkan pemberitahuan dari
pedagang pasar. ’’Suratnya sudah masuk dan kabarnya ada lebih dari 500 orang
yang datang,’’ ungkap Punjul.



 Konflik berkepanjangan terkait tarik ulur
pembangunan pasar tersebut, membuat salah seorang tokoh masyarakat Kelurahan
Temas, Dani Harjo Sunyoto ikut prihatin. Pihaknya justru menginginkan pasar
segera dibangun demi kebaikan bersama.



 Dani merupakan Kades terakhir dan Lurah
Pertama Temas, mengaku telah menerima pengaduan dari warganya. Apalagi menurut
dia, lahan pasar tersebut dulunya merupakan eks bengkok Kelurahan Temas, karena
itu sangat wajar jika warganya menginginkan kondisi pasar lebih baik, sehingga
bisa nyaman digunakan sebagai aktifitas jual beli.



 ‘’ Dulu, sekitar tahun 1982 kami butuh
perjuangan keras, untuk mewujudkan sebuah pasar seperti sekarang di lahan eks
bengkok sekitar tahun 1982. Sekarang kondisi pasar sangat parah, sehingga perlu
dibangun. Kami sangat setuju pembangunan dan kalau bisa dilakukan sesegera
mungkin,’’ ungkap Dani kepada Malang Post, kemarin.



 Sebagai mantan Kades dan Lurah, pihaknya
sangat mempertimbangkan kondisi pasar yang sekarang ini. Yakni, dinilai kumuh.
Pro dan kontra dalam sebuah pembangunan, dia katakan adalah wajar. Saat pembangunan
pasar 1982 lalu, juga terjadi hal yang sama.



 ’’ Setelah Pasar Batu yang lama (sekarang
Alun-alun, red), terbakar juga terjadi pro kontra. Ada yang ingin tetap di
bertahan di lokasi lama, tapi ada yang setuju dibangun di wilayah Temas. Tetapi
pada akhirnya ada titik temu, sehingga semua sepakat pindah ke Temas,’’
terangnya.



 Warga Jalan Wukir ini menambahkan, selain
faktor kondisi pasar yang sudah sepatutnya dibangun, juga karena sekarang sudah
banyak berdiri mall dan toko modern. Kalau pasar dibiarkan terus seperti
sekarang, maka pembeli akan lari ke tempat perbelanjaan yang bagus dan modern.



 Terpisah, Widhi
Dharma, Project Director PT Panglima Capital Itqoni (PCI), selaku calon
investor pasar menyatakan, bahwa saat ini banyak beredar informasi yang tidak
benar yang dihembuskan kepada pedagang.



 Informasi yang
berhembus itu antara lain, menurutnya, penyampaian harga maksimal kepada
pedagang kecil, dengan tujuan pedagang merasa tidak mampu menebus kios kembali.
Padahal PT PCI sebagai pengembang, menawarkan sistim pembayaran mulai Rp 14
ribu per hari selama 5 tahun dengan masa pakai 30 tahun. Ini berarti selama 25
tahun berikutnya, pedagang hanya dibebani biaya kebersihan, keamanan, yang
besarannya sekitar Rp 5 ribu per hari.



 ‘’Apabila
pedagang kecil masih keberatan, masa angsuran bisa diperpanjang sehingga beban
bisa lebih murah per harinya. Sedangkan harga maksimal dikenakan kepada
pedagang besar, yang kebutuhannya memang jauh berbeda dengan pedagang kecil.
Harga maksimal itupun, jauh lebih murah dibanding  kios di pusat perdagangan lain di Kota
Batu,’’ ungkap Widi.



 Informasi lain,
kata dia, PKL tidak akan ditampung ulang. Dia tegaskan, informasi ini sama
sekali tidak benar. Sekitar 1.500 PKL tetap akan tertampung setelah adanya
pembangunan.



 ‘’PT PCI sejak
awal telah berkomitmen untuk menampung ulang seluruh pedagang, yang ada tanpa
kecuali. Melalui perwakilannya, kami telah beberapa kali mengadakan pertemuan
untuk menyampaikan informasi yang sebenarnya. Bahkan telah menemui paguyuban
ojek, pick up, kuli angkut, & semua pihak yang terkait dengan pasar. Namun
informasi itu ada yang disampaikan kepada anggotanya apa adanya, ada pula yang
justru tak sesuai dengan fakta yang telah kami sampaikan,’’ tegasnya. (feb/lyo)



   
PT Bina Warga Itqoni, Graha Mandiri Lt.26, Jl. Imam Bonjol No.61 Jakarta Pusat 10310
Telp. (+6221) 3155725 Fax. (+6221) 2302195 Email: info@itqoni.co.id
Copyright © 2010