PASAR TRADISIONAL SOKOGURU EKONOMI NASIONAL YANG PUNYA DAMPAK SISTEMIK UNTUK RAKYAT KECIL, TAPI NGGAK PERLU BAIL OUT ATAU SUBSIDI UNTUK PENGEMBANGANNYA.... YANG DIINGINKAN HANYA PERLAKUAN YANG ADIL...
Mengembangkan kembali pasar tradisional dan menjadikannya pasar yang bersih, nyaman, aman dan memiliki nilai tambah bagi semua pedagang, pembeli dan stakeholder lainnya. Hasil yang diharapkan:Menciptakan ... more >>
Director's Note
Fobia Bankir yang Tak Beralasan
From: Ir. Irwan Khalis, MM
CEO Itqoni Group


Fobia Bankir
yang Tak Beralasan



Jurnal Nasional | Rabu, 14 Nov 2012



Nuswantoro



Oleh: Irwan
Khalis, Presiden Direktur Itqoni



Sampai bulan
Agustus 2012 ini, bank nasional yang menyalurkan KUR ada tujuh bank yaitu Bank
Nasional Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank
Tabungan Negara (BTN), Bank Bukopin, Bank Syariah Mandiri (BSM), dan Bank
Negara Indonesia Syariah (BNI Syariah).



Bank BRI
adalah penyalur KUR terbesar dengan total plafon mencapai Rp51,6 triliun.
Selain sektor ritel BRI juga menyalurkan KUR di sektor mikro yang masing-masing
plafonnya sebesar Rp11,4 triliun dan Rp40,2 triliun, debiturnya 73.344 UMK dan
6.418.783 UMK, rata-rata kredit Rp155,9 juta/debitur dan Rp6,3 juta/debitur,
serta NPL penyaluran masing-masing 3,8 persen dan 2,2 persen.



Menduduki
peringkat kedua yaitu Bank Mandiri dengan total plafon sebesar Rp9,6 triliun,
debiturnya sebanyak 198.739 UMK, dengan rata-rata kredit Rp48,4 juta/debitur
serta nilai NPL sebesar 1,8 persen.



Di urutan
ketiga adalah BNI dengan total plafon sebesar Rp8,9 triliun, debiturnya
sebanyak 123.152 UMK, dengan rata-rata kredit Rp72,2 juta/debitur serta nilai
NPL sebesar 5,2 persen. Selanjutnya berturut-turut yaitu BTN dengan plafon
Rp2,9 triliun, BSM dengan plafon Rp2,4 triliun, Bank Bukopin dengan plafon
Rp1,2 triliun dan BNI Syariah dengan plafon Rp17,9 miliar. Secara keseluruhan,
nilai Non Performing Loan (NPL) penyaluran KUR oleh bank pelaksana ini
masih di bawah 5 persen yaitu sebesar 3,3 persen.



Beberapa
sektor yang sebenarnya sangat strategis, ternyata masih sulit disentuh bank
nasional. Misalnya, pedagang pasar tradisional yang ingin mengubah nasib dan
berjuang melawan gempuran ritel modern dengan program revitalisasi pasar
tradisional.



Tampaknya
bank penyedia KUR ingin bermain sangat aman, sehingga pelaksanaan program
revitalisasi pasar tradisional bukan menjadi tempat yang nyaman buat bankir
dalam menyalurkan program yang dijamin pemerintah ini. Jelas mereka tidak ingin
ambil risiko terhadap performance kegiatan usaha pedagang pasar
tradisional yang sedang diamuk ritel modern secara membabi buta tanpa
pengaturan zonasi yang jelas.



Banyak
bankir yang sudah panas kupingnya bila disodorkan program pembiayaan untuk
pedagang yang akan direvitalisasi pasar dan infrastrukturnya. Stereotipe cerita
kegagalan masa lalu dan rumitnya permasalahan eksternal sebagai dampak
revitalisasi membuat para bankir "ngeper" mempertaruhkan posisinya
hanya demi membela pedagang pasar tradisional.



Senyatanya,
pedagang tentu punya hak untuk KUR sesuai dengan program pemerintah yang sudah
sangat berpihak pada mereka. Tapi tatkala bankir tidak punya template yang
bagus buat operasional program ini, juga keengganan untuk "keluar dari
kotak", untuk sedikit bersusah payah mendalami masalah pedagang pasar
tradisional membuat pedagang makin dijauhi dari fasilitas yang sangat baik ini.



Padahal,
sungguh berlipat ganda dampaknya bila 12 juta pedagang pasar tradisional ini
di-support dan dientaskan sehingga bisa menggunakan jasa perbankan
layaknya pengusaha menengah ke atas. Kalau Rp20 Juta rupiah saja per UKM
diberikan pada mereka, akan terserap Rp240 triliun fasilitas KUR untuk
permodalan. Belum lagi kebutuhan modal kerja mereka yang terus menerus
berkembang. Ini sama dengan 8 kali target KUR untuk semua sektor di tahun 2012
ini.



Harus
diakui, serasa bank adalah institusi yang tidak bisa disentuh pedagang pasar
karena cara kerja mereka memang tidak sinkron dengan aktivitas pedagang.
Pedagang tidak punya staf untuk setor uang tiap hari, hanya punya bon putih
untuk mencatat utang piutang. Mereka juga jarang diberi hak atas milik kiosnya
sehingga seringkali tidak miliki aset untuk jaminan.



Padahal,
para rentenir begitu berjayanya memberikan jasa keuangan kepada pedagang.
Dengan mudahnya pedagang dapat fasilitas pinjaman. Begitu mudahnya juga
pedagang bayar cicilan karena sang rentenir mendatangi mereka ke kios mereka
masing.



Mengapa bank
yang memilik SDM terlatih, kreatif, dan lulusan terbaik PT ternama tidak bisa
mengusung solusi atas keberadan rentenir tersebut? Padahal tinggal copy-paste
cara kerja rentenir plus upgrade sedikit dengan SOP bank, jadilah skema
yang cocok buat pedagang.



Mental block para bankir perlu digugah dan
diberikan kritik membangun. Bahwa para bankir tidak cukup hanya menjalankan
program dengan menggunakan template yang jadi. Sekali waktu perlu keluar dari
kantor, masuk ke dalam "pasar" dan jiwai apa kebutuhan konsumen. Baru
program Presiden SBY dengan KUR-nya bisa dinikmati oleh pedagang pasar
tradisional.



BRI sebagai champion dalam pelaksanaan KUR
sudah mulai mencoba memperdekat jarak bank dengan pedagang pasar tradisional
lewat Teras BRI. Kita kasih jempol buat BRI karena mereka sangat menjiwai nature
bisnis dari pedagang pasar tersebut. Terbukti BRI begitu mendominasi KUR
ini karena mereka menjiwai UKM dan pedagang pasar tradisional sepenuh hati.
Tentu kita berharap, kreativitas dan mindset terbuka serta tidak jumud
dengan RKAP dan SOP yang kaku, juga muncul dari bank lain yang ditunjuk
pemerintah untuk salurkan amanat pembangunan nasional ini.
   
PT Bina Warga Itqoni, Graha Mandiri Lt.26, Jl. Imam Bonjol No.61 Jakarta Pusat 10310
Telp. (+6221) 3155725 Fax. (+6221) 2302195 Email: info@itqoni.co.id
Copyright 2010